Rabu, 28 Juli 2010

Presiden SBY Beri Waktu Tiga Bulan Bagi PLN Pertahankan Prestasi

MATARAM- Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) Selasa lalu (27/7/2010) mendeklarasikan Gerakan Menuju Bebas Pemadaman Listrik Bergilir 2010 di halaman kantor gubernur NTB, Mataram.

NTB dipilih sebagai lokasi dan tuan rumah deklarasi karena merupakan daerah terakhir yang berhasil mengatasi masalah pemadaman bergilir pada 30 Juni lalu.

Pada kesempatan itu, Dirut Perusahaan Listrik Negara (PLN) Dahlan Iskan melaporkan bahwa PLN telah berhasil menghentikan pemadaman listrik bergilir. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berterimakasih untuk itu. Tapi Presiden memberi waktu tiga bulan bagi PLN untuk mempertahankan prestasi itu.

"Dan enam bulan dari sekarang, tepat pada bulan Desember, saya akan melihat sekali lagi, manakala masalah ini benar-benar dapat kita selesaikan, saya akan bulat dan penuh memberikan apresiasi kepada pimpinan dan segenap jajaran PLN," kata Presiden SBY dalam sambutan acara Gerakan Menuju Bebas Pemadaman Listrik Bergilir,.

Presiden kemudian meminta Dahlan Iskan mengizinkan karyawan PLN yang telah berupaya mewujudkan penghentian pemadaman bergilir ini untuk menerima undangannya untuk minum teh di Istana. "Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih atas nama rakyat atas kerja keras saudara-saudara," ujar SBY.

''Semua tahu, listrik penting. Listrik juga tentang keadilan. Tidak adil rasanya kalau sebagian rakyat tidak mendapatkan listrik dengan mudah,'' kata SBY ketika memberikan sambutan.

Selain Dirut PLN Dahlan Iskan, sejumlah menteri Kabinet Indonesia Bersatu juga hadir dalam deklarasi tersebut. Di antaranya, Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Darwin Zahedy Saleh, Menko Kesra Agung Laksono, Mendagri Gamawan Fauzi, serta sejumlah pejabat tinggi negara lain.

SBY menuturkan, permasalahan listrik yang terjadi saat ini merupakan warisan sejak zaman Indonesia baru merdeka. Pendiri Partai Demokrat itu menjelaskan, sejak dulu hingga 2005, jumlah atau kapasitas listrik di tanah air tidak berubah. Padahal, permintaan masyarakat terus meningkat.

Sebagai antisipasi, ungkap SBY, pemerintah mencanangkan program pembangunan pembangkit berkapasitas 10 ribu megawatt (MW) tahap pertama dan kedua. ''Butuh waktu panjang. Sebagai contoh, untuk membangun pembangkit 2 x 200 MW, butuh waktu 2 hingga 4 tahun. Untuk itu, hingga waktu penambahan daya tersebut tuntas, masalah daruratnya perlu diatasi dulu,'' ujarnya.

SBY menyatakan lega masalah pemadaman listrik bergilir berhasil diselesaikan secara tuntas pada 30 Juni lalu. Dia secara eksplisit menyampaikan penghargaan atas perjuangan karyawan PLN yang bekerja siang dan malam selama enam bulan terakhir. Karena itu, SBY mengundang karyawan dan direksi PLN tersebut untuk minum teh di Istana Negara.

Dalam kesempatan itu, presiden juga menjawab kekhawatiran soal kenaikan tarif dasar listrik (TDL). SBY juga menjawab berbagai pernyataan miring seputar penghapusan subsidi dalam APBN. Dia menerangkan, di antara total anggaran lebih dari Rp 1.000 triliun dalam APBN, lebih dari Rp 200 triliun dihabiskan untuk subsidi.

Padahal, pemberian subsidi itu belum tentu tepat sasaran bagi rakyat miskin. Untuk listrik, pemerintah mengalokasikan subsidi Rp 55 triliun, sedangkan subsidi BBM Rp 90 triliun.

''Tidak ada kenaikan TDL untuk pengguna 450-900 VA. (Tarif listrik) untuk industri juga sudah dihitung sehingga tidak akan membebani produksi. Dengan kebijakan ini, ke depan justru akan bisa dialirkan listrik ke daftar tunggu,'' kata SBY sambil mengutip daftar tunggu saat ini yang mencapai 19 juta pelanggan.

Saat memberikan laporan tanpa teks di hadapan SBY dan sejumlah menteri, Dirut PLN Dahlan iskan memaparkan berbagai persoalan yang selama ini dihadapi PLN di Aceh hingga Ambon. Semua sudah bisa diatasi.

Laporan Dahlan tidak hanya mengundang aplaus dari SBY, tapi juga menarik simpati para undangan. Dahlan membeberkan berbagai persoalan PLN sehingga masyarakat tahu perjuangan perusahaan listrik itu selama enam bulan terakhir.

''Orang-orang PLN tidak berani pakai seragam karena takut dilempar warga. Bahkan, ada general manager PLN yang dijemur oleh masyarakat,'' paparnya.

Bukan hanya itu, PLN dihadapkan pada berbagai demonstrasi ketidakpuasan masyarakat di banyak tempat. Seorang karyawan PLN terpaksa menjotos demonstran karena tidak tahan dihujat. Dahlan tidak menyalahkan anak buahnya itu. Petugas PLN Ambon tersebut justru diajak ke Mataram dan dihadirkan di depan SBY.

Dahlan juga menyebutkan beberapa prestasi di daerah. Misalnya, di Aceh yang sebelumnya terjadi krisis listrik dan krisis kapasitor (14 VA). ''Untuk mengatasi, kami pasang kapasitor dari Medan ke Aceh. Sekarang, selain bebas krisis listrik, Aceh juga bebas tegangan karena sudah 20 VA,'' jelasnya.

Dahlan juga memaparkan kondisi listrik di Jawa. Pada 30 November mendatang, tegas dia, kualitas pelayanan dan mutu listrik di Jawa harus berstandar internasional.

Sementara itu, Menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh menyatakan, dalam jangka pendek, upaya mengatasi krisis listrik dilakukan dengan membeli kelebihan daya dari swasta. PLN juga menyewa genset serta mempercepat pemeliharaan mesin. ''Proyek pembangunan listrik 10 ribu MW kami harapkan rampung pada 2013,'' ujarnya. ar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar