Sabtu, 24 Juli 2010

Diskotek Golden Crown Jadi Sarang Narkoba dan Gigolo Asal Cina

JAKARTA-Golden Crown Executive Club dan Diskotik, di kawasan Glodok Plaza, Tamansari, Jakarta Barat selama ini telah dikenal menjadi sarang bagi peredaran narkoba dan pelacur (Pekerja Seks Komersial –PSK) asal negeri China yang sering dikenal sebagai Chung Kuo. Tapi, ternyata tak hanya itu. Kini diskotek itu juga menjadi sarang gigolo asal negeri China yang sering disebut sebagai “Bebek Peking”. Tak heran jika tempat ini sekarang jadi “intaian” pihak berwajib.

Pada tahun 2005 lalu, Diskotik Crown ini sebenarnya pernah disegel aparat karena pekerjanya berulang kali terlibat dalam penyaluran narkotika. Seperti pada tanggal 15 Desember 2005 lalu, polisi menangkap pekerja diskotek itu berinisal Nz dengan barang bukti dua butir ekstasi.

Beberapa kali pihak berwajib memang berhasil menangkap sejumlah pengedar narkoba di tempat ini. Sejumlah perempuan PSK asal China (Chung Kuo) juga mudah ditemukan di tempat ini.

Sampai sekarang para pengunjung pun sangat mudah mendapatkan narkoba di diskotek ini.

Yang terbaru adalah tertangkapnya seorang pria asal China bernama Su Cian, di Golden Crown Executive Club dan Diskotik, belum lama ini. Pria yang hanya bisa berbahasa China dan sama sekali tak mengerti bahasa Indonesia ini ditangkap lantaran memiliki 1,6 gram shabu-shabu dan 8 happy five.

Pria yang ditangkap di karaoke itu tergolong sangat ganteng dan masih berumur sangat muda yakni kelahiran tahun 1982.

Menurut sumber di Polda Metro Jaya, pria asal China ini memang sering mengedarkan narkoba di diskotek Golden Crown. Sebelumnya, polisi juga telah menangkap teman Su Cian yang bernama Yau Hi Can, yang juga kelahiran China Daratan tahun 1982 di apartemen Mediterania, di Jalan Gajah mada, Jakarta Barat. Saat ditangkap Yau Hi Can kedapatan mengantongi 0,7 gram shabu-shabu.

Dari pemeriksaan terhadap kedua tersangka ini diketahui bahwa mereka memang telah dimanfaatkan bandar-bandar narkoba untuk ikut mengedarkan narkoba.


Keduanya sampai sekarang masih terus dalam pemeriksaan intensif. Yang mengejutkan, ketika diperiksa Su Cian mengaku bahwa dirinya adalah gigolo.

“Ya, saya gigolo,”aku Su Cian seperti dikutip Kasat Narkoba Ditnarkoba Polda Metro Jaya, AKBP Hendra Johny, belum lama ini.

Hendra Johny seperti dikutip majalah kepolisian “JAGRATARA” edisi Juli 2010, mengaku sangat terkejut dengan pengakuan Su Cian.”Yang saya tahu ada juga gadis-gadis penghibur dari China yang sering di sebut Chung Kuo, tapi ini justru pria penghibur yang dipanggil dengan sebutan Bebek Peking,”katanya.

Sang Bebek, diduga didatangkan secara terorganisir. Di Jakarta, mereka diperkerjakan sebagai pemandu lagu di karaoke. Padahal tujuan utamanya adalah sebagai gigolo.

Lalu bagaimana para Bebek itu kemudian terlibat narkoba? ”Saya prediksi mereka digunakan oleh para pengedar untuk melayani konsumen yang membokingnya,”kata AKBP Hendra Johny.

Para Bebek tersebut diduga diorganisir oleh orang-orang tertentu kemudian di tampung di apartemen-apartemen. Sayangnya, karena tak mengerti bahasa Indonesia, kedua pria rata-rata berwajah tampan itu tak bisa memberikan kontribusi jawaban yang diperlukan polisi untuk mengembangkan kasusnya.

Hendra Johny mengatakan, kasus ini tergolong modus baru, karena itu pihaknya akan melakukan koordinasi dengan pihak terkait guna melakukan pengintaian dan razia terhadap pria-pria yang diduga sebagai Bebek Peking itu.

Menurut informasi, para Bebek Peking itu beroperasi di tempat hiburan mewah. Tarif mereka cukup mahal di atas Rp 2 juta rupiah. Kemungkinan besar selain dimanfaatkan oleh Bandar, para gigolo itu terbiasa menggunakan narkoba karena permintaan wanita yang menyewanya.

Direktur Narkoba Polda Metro Jaya, Kombes Ajan P Putra membenarkan pihaknya kini menangani pria-pria yang diduga gigolo dari China.”Kami terus melakukan pengembangan kasus itu,”katanya.

Sementara itu, Ketua Komite Rakyat Anti Kemaksiyatan (Komrak) Muhammad AK juga berharap agar aparat benar-benar serius menindaklanjuti kasus gigolo asal China yang mulai merambah ibukota Negara RI itu.

Muhammad AK juga mendesak pihak kepolisian gencar melakukan razia di diskotek-diskotek yang dikenal marak dengan peredaran narkoba.

“Perdaran narkoba yang makin marak dan mulai munculnya gigolo asal China ini tidak bisa ditolerir. Kalau perlu pengelola atau pemilik diskotek dan tempat karoke yang menampung mereka dan membiarkan maraknya peredaran narkoba di tempat hiburan milik mereka juga diperiksa. Kalau dibiarkan, ini akan makin merusak moral dan akhlak generasi muda kita,”ujar Muhammad AK.

1 komentar:

  1. klau bisa di tutup ajah merusak generasi mudah kenyataanya benar banyak bandar narkoba masuk tenang . harus di basmi

    BalasHapus